Butuh atau Tidak?

Beberapa kali saya kondangan ke pernikahan saudara atau teman dan mendapat sebuah souvenir. Souvenir itu saya terima dan ternyata sampai sekarang masih tergeletak tidak tersentuh lagi.

Di lain waktu, istri saya juga membeli barang di sebuah toko online. Ia membeli karena tergiur diskon yang ditawarkan. Dan sampai sekarang barang tersebut nyaris tidak terpakai.

Di kesempatan lain, saya juga mendapat beberapa kaos kegiatan. Kaos tersebut cuma dipakai beberapa kali dan menumpuk di lemari.

Dari beberapa hal di atas, saya bertanya dalam hati, sebenarnya kita ini BUTUH atau TIDAK sih, pada benda-benda tersebut? Jikalau pada akhirnya benda-benda tersebut hanya tergeletak memenuhi ruang-ruang terbatas di dalam rumah kita, mengapa kita harus mengambilnya?

Mungkin sudah lazim pada diri kita jika ada penawaran-penawaran yang seolah-olah menguntungkan, apalagi itu cuma-cuma, kita akan menerimanya tanpa berfikir lagi bahwa kita membutuhkannya atau tidak.

Padahal jika kita mau memikirkan hal yang ‘sepele’ tersebut, manfaatnya bisa dirasakan oleh orang yang lebih membutuhkan.

Misalnya begini, kita mendapat kaos dari sebuah kegiatan. Padahal sebenarnya kita tidak membutuhkannya. Kaos yang ada di almari masih cukup untuk dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Karena tidak butuh, maka kaos kegiatan tersebut bisa kita berikan kepada teman, saudara atau orang lain yang membutuhkan.

Kita juga bisa memilih untuk tidak mengambilnya. Barang-barang tersebut mungkin bisa lebih bermanfaat untuk orang lain yang mengambilnya.

Pun begitu dengan penawaran-penawaran baik di toko online ataupun minimarket, sebelum kita membelinya, alangkah baiknya kita bertanya pada diri sendiri : BUTUH atau TIDAK?

Saya jadi teringat pesan Nuseir Yassin (NAS DAILY.) dalam salah satu videonya yang kurang lebih begini sebelum menentukan pilihan untuk memiliki atau membeli sesuatu, tanyakan pada diri sendiri minimal 5 kali : BUTUH atau TIDAK?

Jika tidak butuh, ya sudah tinggalkan saja. Meskipun itu GRATIS.

Iklan

Ketika Motorku Sakit

Motor Setelah Diservis

“Totalnya berapa, Mbak?” Saya bertanya kepada bagian pembayaran.

“450 ribu, Mas.”

Segera saya menyelesaikan pembayaran dan beringsut menghampiri motor yang sudah terparkir di halaman bengkel.

Beberapa jam yang lalu, seorang teknisi bengkel tersebut menelpon saya.

“Selamat siang, Pak, benar ini dengan Pak Lisin?” Sang teknisi membuka percakapan.

“Iya, Mas.” Saya menjawab sembari menyelesaikan tugas-tugas kantor.

“Begini, Pak. Ini suara kasar mesin Bapak bersumber dari rantai kamprat yang sudah aus. Apakah boleh kami ganti?” Mas teknisi menjelaskan ikhwal kerusakan motor saya.

“Ya, Mas. Diganti saja!”.

“Ini juga olinya kering, Pak. Nanti sekalian kami cek, apakah perlu turun mesin atau tidak.” Sambung teknisi.

“Oke. Oh ya, Mas jangan lupa sekalian ganti lampu indikator bahan bakarnya nggih, Mas!”

“Baik, Pak.”  Pagi ini sengaja saya ijin sebentar untuk memasukkan motor ke bengkel.

Tadi pagi ketika saya berangkat ke kantor tiba-tiba motor menderum kencang dan mesin tidak bergerak sama sekali. Setelah saya matikan dan hidupkan kembali, dari dalam mesin terdengar suara “tek-tek-tek” yang mengganggu.

Karena saya memang tidak mau mengerti tentang mesin, segera kondisi itu saya bawa ke bengkel ahass yang paling dekat dengan kantor. Pertimbangannya saya bisa menaruh motor dan kembali ke kantor untuk bekerja. Nanti sore sepulang kerja, baru saya ambil.

***

Motor saya sudah terparkir di sisi barat halaman bengkel. Kondisinya sudah lebih bersih. Memang jika kita servis motor di bengkel ini akan mendapat bonus cuci motor meskipun tidak sebersih di tempat pencucian motor khusus.

Kunci motor saya masukan ke lubangnya. Saya tekan tombol star di bagian kanan stang sepeda motor. “Tek-tek-tek”. Suara itu masih melekat di mesin. Seperti tadi pagi. Saya kecewa dan menanyakan kepada salah satu teknisi yang ada di bagian pendaftar.

Baca Lebih Lanjut

Wisudha Purnawiyata Bregada 26 Permadani Kota Magelang

Foto sebelum Wisudha di depan Pendopo Pengabdian

Kota Magelang, Tumpak Jenar / Setu Pahing, 6 Juli 2019.

Alunan suara Gendhing Ladrang Nuswantara terdengar merdu mengiringi langkah -langkah pendek kami. Pagi itu, sebanyak 31 siswa Bregada 26 kompak menggunakan pakaian Jawa Gagrak Surakarta. Kami berjalan perlahan untuk mengikuti rangkaian acara Wisudha Purnawiyata Bregada 26 Pawiyatan Panatacara tuwin Pamedhar Sabda yang diselenggarakan di Pendopo Pengabdian, komplek rumah dinas Walikota Magelang.

Acara ini diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Kota Magelang. Wisudha Purnawiyata ini merupakan puncak dari kegiatan kursus pembawa acara / pidato bahasa jawa atau Pawiyatan Panata Tuwin Pamedhar Sabda yang telah dilaksanakan selama 6 bulan mulai dari tanggal 2 November 2018 sampai dengan 3 Mei 2019 di Aula Cendekia, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang.

Baca lebih lanjut

Logo Permadani Format Vector dan Filosofinya

Logo Resmi Permadani

Permadani adalah singkatan dari Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia. Beberapa bulan ini saya mengikuti kegiatan Pawiyatan Panatacara tuwin Pamedhar Sabda Permadani Kota Magelang yang diselenggarakan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang.

Menjelang akhir kegiatan, saya mendapat tugas untuk membuat buku kenangan. Saya mencoba mencari logo Permadani format vector di google, namun tidak juga menemukan. Saya hanya menemukan logo berformat .jpg dengan resolusi yang tidak begitu besar. Oleh karena itu saya mencoba menggambar ulang logo Permadani tersebut dengan aplikasi desain andalan saya: Inkscape.

Baca lebih lanjut

Sebuah Doa yang Ter-ijabah

Beberapa minggu yang lalu, saya dan satu orang teman sesama takmir di mushola dusun kami, rasan-rasan. Saat itu kami sedang berada di mushola untuk menata mesin pengeras suara. Satu set soundsystem yang tadinya kami taruh di atas meja, kami rapikan di dalam lemari yang sudah selesai dipesan.

“Mas, saya ini prihatin je melihat shaf sholat di mushola kita. Maju mundur nggak karuan, meliuk-liuk kayak ular.” Keluhku pada Mas Adi.

“Iya Mas, padahal Nabi menyuruh kita untuk meluruskan shaf Nggih, Mas?”

Ngih Mas. Tapi kita nggak bisa menyalahkan jamaah. Karpet kita ini yang memang terlalu pendek. Belum lagi kalau ada jamaah yang postur tubuhnya memang tinggi. Ia tentu dilema. Mau lurus tapi nyundul depan. Mau sedikit ke belakang tapi shafnya jadi nggak lurus.” Saya menambahi percakapan.

“Nggih, Mas”. Jawab Mas Adi.

Kondisi karpet di mushola kami masih menggunakan model yang lama. Karpet hijau gambar masjid berkotak-kotak seperti sajadah. Ukuran lebarnya hanya sekitar 1 meteran. Selain ukurannya yang pendek, karpet yang sudah agak lama juga teksturnya semakin keras. Membuat kami kurang nyaman saat melakukan sujud.

Baca lebih lanjut