Wisudha Purnawiyata Bregada 26 Permadani Kota Magelang

Foto sebelum Wisudha di depan Pendopo Pengabdian

Kota Magelang, Tumpak Jenar / Setu Pahing, 6 Juli 2019.

Alunan suara Gendhing Ladrang Nuswantara terdengar merdu mengiringi langkah -langkah pendek kami. Pagi itu, sebanyak 31 siswa Bregada 26 kompak menggunakan pakaian Jawa Gagrak Surakarta. Kami berjalan perlahan untuk mengikuti rangkaian acara Wisudha Purnawiyata Bregada 26 Pawiyatan Panatacara tuwin Pamedhar Sabda yang diselenggarakan di Pendopo Pengabdian, komplek rumah dinas Walikota Magelang.

Acara ini diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Kota Magelang. Wisudha Purnawiyata ini merupakan puncak dari kegiatan kursus pembawa acara / pidato bahasa jawa atau Pawiyatan Panata Tuwin Pamedhar Sabda yang telah dilaksanakan selama 6 bulan mulai dari tanggal 2 November 2018 sampai dengan 3 Mei 2019 di Aula Cendekia, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang.

Acara yang dilaksanakan bersama dengan Wisudha Pamong DPD Permadani Kota Magelang Mangsa Gati 2018 – 2013 ini dihadiri oleh Walikota Magelang, Pengurus DPP Permadani, DPW Permadani Jawa Tengah, DPD Permadani di sekitar Kota Magelang, serta beberapa tamu undangan yang lain.

Sebelum Wisudha Purnawiyata dilaksanakan, siswa Bregada 26 melantunkan Lancaran Permadani Kuncara yang merupakan Mars Permadani dengan iringan gendhing. Setelah itu para siswa diwisudha serta diberika samir, partisara atau sertifikat dan Kartu Tanda Anggota (KTA) Permadani. Sejak saat itu para siswa Bregada 26 ini resmi menjadi warga atau anggota Permadani.

Sebagai anggota Permadani, para siswa berkewajiban untuk menjalankan sesanti atau visi Permadani yang disebut dengan Tri Niti Yogya (Bobot Sikeping Agesang) yaitu :

  1. Memayu Hayuning Sasama yang artinya : senantiasa menciptakan kedamaian dan ketentraman lahir batin.
  2. Dados Juru Ladining Bebrayan Ingkang Sae yang artinya : menjadi abdi untuk melayani segala lapisan masyarakat dengan baik.
  3. Sadhengah Pakaryan Tansah Sageda Ngremenaken Tiyang Sanes yang artinya : segala ucapan, tindakan, dan prilaku anggota Permadani selalu dapat membuat senang hati orang lain.

Selain itu, warga Permadani diharapkan dapat mengutamakan kebersamaan sesuai dengan etika Tri Rukun yaitu :

  1. Rukun Rasa yang berarti : mempunyai sikap, persepsi dan tujuan yang sama bahwa kebudayaan peninggalan leluhur yang mengandung nilai-nilai luhur harus tetap dijaga kelestariannya.
  2. Rukun Bandha yang artinya : mempunyai semangat gotong – royong dalam mendukung setiap kegiatan organisasi.
  3. Rukun Bala yang artinya : menggalang kebersamaan atas dasar ikatan tali persaudaraan.

Dalam sambutan Pengurus Pusat Permadani, yang diwakili oleh Sekretaris Umum DPP, Drs. Suyitno Yoga Pamungkas, M.Pd berpesan agar warga Permadani senantiasa dapat dhuduk, dhudah, mekar, ngrembakaaken kabudayan Jawi (menggali dan melestarikan kebudayaan Jawa) sehingga kebudayaan adhiluhung ini dapat senantiasa anjayeng bawana (berjaya di seluruh belahan dunia).

** *

Sejak kecil saya tertarik dengan kebudayaan Jawa. Kebudayaan adiluhung ini mengajak saya untuk senantiasa mencintai, belajar dan menggali nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, termasuk belajar berpidato dengan bahasa Jawa.

Beberapa tahun silam, saya mendapatkan informasi kalau ingin belajar berpidato dengan bahasa jawa yang bagus, itu lewat kursus di Permadani. Namun saya belum tahu di mana harus mengikuti kursus ini. Berkali-kali bertanya, belum mendapat jawaban yang pasti.

Hingga suatu saat saya melihat foto teman facebook yang sedang diwisudha di Pendopo Pengabdian. Begitu ketemu beliau, saya menggali informasi tentang Permadani Kota Magelang. Saya memperoleh informasi yang memuaskan. Informasi pembukaan Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda Bregada 26 akan segera dibuka. Ia meyarankan saya untuk mendaftar di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang. Tanpa berpikir panjang, segera saya mendaftarkan diri.

Saya mengikuti Pawiyatan selama 6 bulan yang dilaksanakan setiap hari Senin dan Jumat sehabis pulang kerja. Meskipun terkadang saya tidak bisa hadir di pawiyatan, karena ada tugas kantor yang bersamaan, saya berusaha untuk mengikuti kegiatan dengan maksimal.

Selain di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, saya juga mengikuti gladen di rumah guru saya, Bp Wiyoto yang berada di dekat kampus II UMMagelang. Setiap malam rabu, sehabis Sholat Isya’ saya dan beberapa teman memperdalam materi dengan berlatih kepada Bp Wiyoto yang merupakan sesepuh Permadani Kabupaten Magelang.

Banyak ilmu yang di dapat dari kegiatan ini. Namun tidak sedikit juga teman-teman yang tidak bisa melanjutkan pawiyatan sampai diwisudha. Dari 62 peserta yang mendaftar, hanya 31 yang mengikuti kegiatan sampai dengan selesai. Memang benar kata sesepuh, menuntut ilmu membutuhkan kesabaran.

Meski sudah diwisudha, bukan berarti kami telah menguasai sepenuhnya ilmu yang di dapat. Ilmu yang kami dapatkan baru sak kuku ireng (sangat sedikit). Untuk itu kami semua masih perlu belajar dan terus berlatih memperdalam ilmu tentang kebudayaan Jawa ini. Semoga kami semua dapat istiqomah menggali, memperdalam serta mengaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Tambahan informasi, bahwa Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda Bregada 27 Permadani Kota Magelang, sudah dibuka. Bagi Panjenengan yang berminat untuk mengikuti kegiatan tersebut, silakan mendaftarkan diri di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang, Bidang Kebudayaan dengan Bp. Dian Abdullah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s