Sholat di Dalam Kereta Api

Empat hari ini saya berkesempatan untuk berkunjung ke Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini dalam rangka melaksanakan perintah atasan untuk ngangsu kaweruh tentang kepegawaian. Saya dan rombongan memilih moda transportasi kereta api dalam perjalanan ini.

Sebenarnya rombongan kami harus pulang lagi ke Magelang hari sabtu malam. Akan tetapi karena sabtu sore saya sudah merencanakan kegiatan di kampung. Kebetulan saya yang paling semangat menginisiasi kegiatan ini, maka saya memutuskan untuk ijin pulang lebih awal.

Saya mendapatkan tiket Kereta Wijaya Kusuma dari Stasiun Karangasem, Banyuwangi langsung menuju Stasiun Tugu Yogyakarta. Perkiraan perjalanan ditempuh selama 12 jam. Berangkat dari Karangasem pukul 11.28, perkiraan sampai Jogja pukul 23.47.

Dalam perjalanan pulang ini saya melewati 4 waktu sholat: Dhuhur (tidak memungkinkan Sholat Jumat), Asar, Maghrib, dan Isya’. Dari beberapa referensi yang saya tahu, saya mengambil pendapat yang intinya kita tetap melaksanakan sholat dalam kereta dalam rangka menghormati datangnya waktu sholat, sesampai turun nanti sholat bisa diqodho’ untuk menyempurnakan rukunnya. Dan, di dalam kereta sebisa mungkin kita harus menyempurnakan semua rukun sholat.

Saya mencoba mencari peluang untuk bisa menyempurnakan rukun sholat. Sholat menghadap kiblat, ini yang paling susah dilaksanakan, karena kereta berubah-ubah arah. Untuk berdiri saya mencoba mencari lokasi yang pas. Lokasi ini tidak boleh mengganggu orang lalu lalang. Saya mencoba menghubungi nomor kondektur yang tertera di dalam koridor untuk menanyakan adakah tempat sholat di kereta ini. Sang kondektur langsung menjawab “Maaf di kereta ini belum ada”.

Kemudian saya mencoba mencari tempat di pintu dekat keluar masuk gerbong. Tepatnya sebelah depan gerbong ada lokasi yang memungkinkan untuk sholat dengan berdiri dan tidak mengganggu orang lewat. Saya bertanya kepada petugas kereta dan beliau membolehkannya. Bahkan beliau meminjami plastik untuk alas sajadah saya.

Segera saya gelar sajadah untuk melaksanakan sholat dhuhur dan asar secara jamak qoshor. Alhamdulillah petugas yang tadi mengijinkan juga ikut sholat di atas sajadah saya. Beberapa penumpang juga meminjam tempat sholat darurat ini untuk menunaikan kewajiban sholat mereka. Bahkan sehabis sholat ada yang menawari saya makan siang, namun saya tolak karena perut saya masih terasa kenyang.

Lega rasanya jika telah melaksanakan salah satu rukun Islam ini. Karena memang sholat tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun.

Saat ini memang sudah ada beberapa kereta yang menyediakan tempat khusus sholat, akan tetapi belum semuanya. Semoga kedepan, transportasi masal seperti kereta api ini bisa menyediakan tempat khusus untuk sholat. Mengingat kita di negara yang mayoritas muslim, sebisa mungkin penumpang dimudahkan untuk melaksanakan kewajibannya. Syukur-syukur ada gerbong khusus untuk mushola ;).

Btw, terimakasih untuk Kereta Api Indonesia khususnya petugas yang mengijinkan kami untuk sholat di dekat pintu gerbong. Semoga rahmat keberkahan dari Allah SWT senantiasa melimpah untuk Panjenengan.

Kereta Api Wijaya Kusuma, 20 September 2019 13.10 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s